By:
Nailatul Hafifa
Aku berjalan menyusuri koridor apartemen, tampak lengang hari ini. Tak
ada seorang pun terlihat, tak ada suara gaduh pun yang terdengar dari balik
pintu kamar apartemen. Kemana mereka? Tak biasanya apartemen sepi seperti ini.
Aku berada di depan pintu lift, menunggu pintunya terbuka karena lebih
baik aku mencari udara segar saja di luar apartemen dari pada memikirkan
orang-orang di apartemen yang menghilang entah kemana, mungkin mereka sedang
terjebak lorong waktu doraemon, hahaha bisa jadi.
Pintu lift terbuka dan begitu terkejutnya aku karena melihat seseorang
di dalam lift, tinggi, memakai mantel hitam panjang, dan masker yang menghiasi
mukanya dengan topi koboi bertengger di kepalanya. Tak pernah aku melihatnya,
asing bagiku. Aneh.. yah benar-benar terlihat aneh dan membuat bulu kudukku
merinding. Aku terus saja menatapnya, memendam rasa curiga terhadap orang itu.
Dia menunduk menutupi wajahnya yang hanya terlihat matanya, mata yang biru. Aku
mundur satu langkah, dengan muka sedikit curiga. Pintu lift akan menutup dan
aku tahu itu, tak ingin satu lift dengan orang aneh dan mencurigakan, aku
mengurungkan niat ku pergi mencari udara segar, yang aku inginkan sekarang
kembali ke kamar apartemenku, dan bersantai disana.
Aku berjalan menjauhi lift, tapi seakan rasa penasaran hinggap pada
diriku, aku pun menoleh ke arah pintu lift, dan ya ampun… pintu lift masih
terbuka, orang aneh itu menahan pintu liftnya.
Aku mengerjitkan alisku, dan bertanya-tanya dalam hati. Apakah dia orang
jahat? Apakah dia penculik orang? Apakah dia perampok? Sangat banyak pertanyaan
negative tentangnya yang tak perlu jawaban karena aku pasti sudah tau jawaban
yang aku butuhkan. Aku mengambil nafas panjang, dan orang itu masih melihat ke
arahku. 1… 2… 3… aku lari seribu langkah menjauhinya menuju kamar apartemenku.
Sesekali aku menoleh ke belakang dan kulihat dia tetap pada posisinya tak
berpindah sedikitpun dan orang itu tetap melihat kearahku.
Aku sampai di depan pintu apartemenku, dan aku masih melihatnya yang tak
bergerak karena jarak antara kamar apartemenku dengan lift tak begitu jauh
masih terjangkau oleh mata, nafasku mulai habis, peluh bercucuran, tanganku
yang gemetar memencet kata sandi pintu apartemen. Dan klik.. pintu kamar apartemenku
terbuka, segera aku masuk ke apartemen dan menguncinya rapat-rapat.
***
Kriiiiiiiiiuuuuyuuuuuuuuuuuuuuk…
Suara perut kosongku berbunyi minta diisi, untuk malam ini aku harus
pergi keluar mencari makan, seperti biasanya.
Ku bungkus tubuhku dengan mantel tebal, ku lilitkan syal ke leherku,
syal satu-satunya yang kumiliki, di luar pasti udaranya sangat dingin dan aku
tak tahan dengan udara dingin.
Aku menunggu pintu lift terbuka, dan yap… tak perlu waktu lama pintu
lift terbuka untukku. Tapi bukan rasa senang yang menghampiriku, tapi rasa
terkejut yang datang padaku. Bagaimana tidak terkejut, aku melihat orang yang
beberapa hari lalu membuat bulu kudukku merinding, sekarang berada di depanku
lagi. Persis saat pertama kali kejadian itu terjadi. Aku ragu untuk masuk ke
dalam lift tapi lapar diperut tak bisa aku tahan.
Aku melangkah memasuki lift, dengan penuh keraguan, ketakutan, dan
kecurigaan kepada orang itu. Aku berdiri menjauh darinya, berharap pintu cepat
terbuka di lantai dasar. Rasanya waktu kejadian berlangsung menunggu waktu 10
detik seperti sentengah abad lamanya.
3, 2, 1.. pintu lift terbuka. Aku bisa bernafas lega, aku segera
melangkah keluar dari dalam lift begitu juga dengannya. Di saat di dalam lift,
kau tau seperti apa? Seperti kau sedang berada di kuburan tanpa jangkrik, sepi,
dingin, hanya aroma parfumnya yang tercium olehku. Dan aromanya tak seaneh
penampilannya.
Melangkah menyusuri jalanan yang ramai, dan tetap selalu menoleh ke
belakang. Aku takut ada seseorang yang mengikutiku terutama orang aneh itu,
parno dikit.
***
Matahari tepat 90 derajat bertengger di sana, di tempatnya. Dan masih
banyak bunga di keranjang sepedaku yang siap ku antar ke pelanggan. Hari ini
cuacanya sangat panas, tak seperti biasanya. Ku kayuh sepeda ontelku, ke tempat
tujuan, berharap bunga yang ada di keranjang sepedaku habis terantar.
“Panasnya hari ini”, kataku dalam batin sambil sesekali
mengipas-ngipaskan topi yang ada di tanganku di beranda tokoku.
Kringggggg kringgggg
Teleponku berbunyi.
“Halo, toko bunga Akira disini”, sapaku
Tak ada jawaban, persis seperti yang ku alami tiap harinya, selalu saja
ada orang iseng yang mengerjaiku.
“Halo”, sapaku lagi
Dan tetap saja tak ada suara di ujung telepon sana. Kututup teleponnya,
kembali ku sandarkan tubuhku yang lelah ini. Mengurus toko tak semudah yang kau
bayangkan, apalagi toko bunga, kau harus mengantarkan pesanan-pesanan bunga
tepat waktu dan jika lewat tak ada lembar rupiah yang aku dapat. Untuk saat ini
memang tak ada yang membantuku mengurus toko bungaku, karena kakak sepupuku
yang biasanya membantuku sedang ada urusan dengan keluarganya. Yah…terpaksa aku
mengurusnya sendiri. Dan untungnya sekarang libur kuliah jadi, menjaga toko tak
menggangguku kuliahku.
Aku mulai membuka toko bunga ini sekitar 1 tahun yang lalu, memulainya
dengan modal yang diberikan oleh ayahku dan sekarang beliau sudah ada di surga
yang damai disana. Ibu? Ibuku kawin lagi, dan aku tak ingin serumah dengan
suami barunya. Maka dari itu aku diberikan apartemen oleh ibu. Tapi sudah lama
aku tak bertemu dengannya, mungkin ibuku sibuk dengan keluarga barunya.
Terakhir kali aku bertemu dengannya saat dia memberikan kunci apartemen.
Jarum jam menunjukkan angka 5, saatnya untuk bersiap-siap pulang.
Ku kayuh perlahan sepeda ontelku, menikmati sang matahari yang kembali
ke tempat peraduannya. Indah, coretan warna jingga, kelabu, hitam mewarnai
kanvas langit biru itu. Menambah sejuknya mata memandang dengan dihiasi
gedung-gedung tinggi yang mulai memancarkan sinar kerlap-kerlip lampunya.
Sepanjang jalan menuju kamar apartemenku, aku menguap tiada henti,
mataku terasa berat tak dapat ku tahan. Segera ku percepat lajuku, ingin cepat
sampai di apartemenku.
Ku rebahkan tubuhku ke kasur, memejamkan mataku. Membayangkan hal-hal indah
yang akan menjadi bunga tidurku.
Aku terbangun, aku baru ingat ada yang ketinggalan di toko bungaku,
yahhh…… handphoneku ketinggalan. Segera aku bangkit dari tidurku, menuju ke
kamar mandi tuk sekedar membasuh muka yang lusuh. Aku terburu-buru keluar dari
kamar apartemenku.
Berdiri mematung menunggu pintu lift terbuka, dan jrenggggg tak perlu
waktu lama pintu lift terbuka. Aku melangkah masuk lift dan aku tidak sendiri
di dalam lift, kulihat ada pria tinggi, putih, tampan, dan matanya biru. Apa?
Matanya biru? Aroma parfumnya? Aroma parfum pria itu persis dengan aroma
parfum……. Orang aneh. Aku menoleh kearahnya lagi, bertanya-tanya, apakah dia
benar-benar orang aneh itu?. Pintu lift terbuka, aku melangkah keluar, dengan
hati yang membutuhkan jawaban.
Ku kayuh sepedaku dengan cepat, sampai nafasku tersenggal-senggal. Dan
pessssssssssss.. ban sepedaku bocor. Aku cek kodisi ban yang bocor, dan
bagaimana tidak mau bocor, bannya tertusuk paku. Aku melihat sekeliling, tak
ada angkutan umum yang terlihat, dan jarak ke toko bunga masih cukup jauh. Aku
menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, mencoba mencari cara bagaimana bisa
sampai ke toko bunga untuk mengambil handphoneku dan kembali ke apartemen
dengan selamat.
Tiba-tiba mobil Lamborghini Murcielago bergerak mundur dan berhenti
tepat di depanku. Aku menebak-nebak siapa yang akan keluar dari dalam mobil,
pria? Ataukah wanita? Dan siapa dia?
Dan ternyata seorang pria yang keluar dari mobil Lamborghini Murcielago itu.
Dan aku kenal dia, bukankah dia yang bersamaku di dalam lift tadi, si mata
biru. Aku memperhatikan langkahnya, memperhatikan gerak geriknya yang mendekat
ke arahku.
“Ada yang bisa aku bantu?”, tanyanya kepadaku dengan senyum di bibirnya.
Aku mengangguk lugu, mataku tak pernah lepas memandang wajahnya.
“Apa yang bisa aku bantu?”, tanyanya lagi dan masih dengan senyum yang
melekat di bibirnya.
“Ban sepedaku bocor”, jawabku sambil menunjuk ban depan sepedaku.
Dia melihat ke arah ban yang kutunjuk tadi.
“Aku tidak bisa memperbaikinya”, suaranya terdengar lirih.
“Tapi, aku bisa mengantarmu ke tempat tujuanmu”, sambung dengan suara
yang semangat.
“T..T..Tapi”, aku berhenti, tak meneruskan kalimat yang ingin aku
lontarkan.
“Tapi kenapa?”, tanyanya penasaran.
“Kau orang asing bagiku”.
“Asing?”, tanyanya dengan nada terkejut sambil mengerjitkan dahi.
“Bagaimana aku tak lagi menjadi orang asing bagimu?”, tanyanya lagi
dengan senyuman.
Aku terdiam sejenak, bagaimana aku menjawab pertanyaannya.
“Setidaknya aku tahu namamu”, tiba-tiba kalimat itu keluar begitu saja
dari mulutku.
Dia tersenyum ramah, mendengar kalimat yang keluar dari mulutku. Lalu
dia menjulurkan tangannya ke arahku, menunggu sambutan tanganku. Aku menunduk
seolah tak melihat apa yang dia lakukan. Kulirik tangannya yang mulai dia
selipkan ke saku celananya.
“Niall Horan, panggil saja aku
Niall”.
Dia membuka pintu mobilnya, menungguku masuk ke dalam. Aku ragu, aku
baru mengenalnya tapi apa boleh buat aku harus mengambil handphoneku yang
ketinggalan di toko bunga. Aku melangkah mendekatinya, dan berhenti sejenak.
“Lalu, bagaimana nasib sepedaku?”.
“Tinggalkan saja disini, nanti temanku akan mengurusnya”, pintanya.
Ku lihat dia mengambil handphonenya di saku celananya, menelfon
seseorang, entah apa yang dibicarakannya, suaranya tak terdengar olehku yang
berada di dalam mobil.
Deru mobilnya terdengar, kami melesat di kegelapan malam.
“Kemana tujuannmu?”, tanyanya memulai pembicaraan.
“Ke toko bunga, di persimpangan kota”.
Dia mengangguk seolah mengerti dan tahu tujuanku. Suasana kembali sunyi
tanpa kata-kata, tanpa pembicaraan, seolah-olah aku dan dirinya menjadi bisu
mendadak.
“Dimana?”, tanyanya lagi setelah berada di persimpangan.
“Disitu, nomer 29”, aku menunjuk salah satu toko yang berjajar disana.
Mobilnya berhenti pas di depan toko bungaku, aku membuka pintu dan
segera pergi menuju toko bungaku. Aku meraba-raba kantong celanaku, berharap
menemukan kunci pintunya. Astaga…. Kuncinya tak ada di dalam kantongku, aku
gelisah, memeriksa kantong celana untuk kesekian kalinya tetapi tetap nihil,
kuncinya tak ada. Aku baru ingat, tadi aku terburu-buru menuju kesini, dan lupa
tak membawa kunci pintu toko bungaku.
Aku menoleh ke belakang, ke arah si mata biru berada. Kulihat dia sedang
berdiri bersender pada pintu mobil. Aku kembali menatap pintu toko bungaku,
seandainya aku tidak lupa membawa kuncinya, pasti aku sekarang sudah berbalik
pulang.
Aku berjalan menuju ke arahnya, menjauhi pintu toko bunga yang tetap
terkunci rapat.
“Sudah selesai?”, tanyanya.
“Belum”, jawabku datar.
“Lalu kenapa kau kembali, kau bahkan belum membuka pintunya?”.
“Itu masalahnya”.
Dia terlihat sedikit bingung dengan jawabanku atas pertanyaannya.
“Aku tak bisa membuka pintunya”, sambungku
Aku menundukkan kepalaku, seakan merasa malu kepadanya atas
kecerobohanku dan membuat aku terlihat bodoh di depannya.
“Kunci pintunya tertinggal”, sambungku lagi.
Dia terlihat mengangguk mengerti.
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Kembali mengambil kuncinya atau….”,
“Aku akan mengambilnya besok, aku tak ingin merepotkan orang lain,
apalagi orang yang baru aku kenal”, aku memotong pembicaraannya.
“Kalau begitu, mari aku antar kau pulang”.
Aku hanya bisa mengangguk.
Mobilnya melesat cepat, meninggalkan wujud toko bungaku.
“Kemana aku akan mengantarmu?”.
“Bukankah kita pernah berada di dalam lift berdua di salah satu apartemen”,
kataku mengingatkannya.
“Jadi, disana kau tinggal”.
“Iya”.
Selang tak berapa lama mobilnya sudah berada di depan apartemen. Aku
turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih padanya.
“Terima kasih banyak Ni….”, aku berhenti tak meneruskan kalimat yang keluar
dari mulutku, aku lupa namanya.
“Niall”, sambungnya.
“Terima kasih banyak Niall”, kataku memperbaiki kalimat tadi, dan dia
masih berada di dalam mobilnya.
“Sama-sama”.
Aku tersenyum padanya dan segera membalikkan tubuhku dan berjalan menuju
ke kamar apartemenku. Aku menoleh ke belakang, dan kulihat dia sudah menghilang
bersama mobilnya.
Aku hempaskan tubuhku ke kasur, nasib apa yang sedang terjadi padaku
sekarang. Niall, Niall Horan, kenapa sekarang namanya ada di fikiranku. Bahkan
rasanya tak ada yang aku fikirkan kecuali nama dan wajahnya saat ini. Si mata
biru yang memukau, Ada apa denganku?
Aku memejamkan mataku, ingin kembali melanjutkan mimpiku yang terpotong
karena terbangun tadi.
***
Alarm berbunyi, menciptakan suara bising yang
memekakkan telinga. Aku terbangun dengan mata masih ingin terpejam, perlahan
tapi pasti, aku membuka mataku. Segera aku mandi, membersihkan tubuhku.
Aku siap berangkat ke toko bungaku, dan saat aku
membuka daun pintu apartemen, aku mengingat sesuatu.
“Ya.. Ampun. Bagaimana aku bisa lupa hari ini ? Hari
ini tanggal 14 Februari dan banyak pesanan bunga sekarang. Oh… tidak, sudah jam
berapa sekarang?”, aku memaki diriku sendiri karena keteledorannku.
Aku melirik arloji di tangan kiriku, arloji
pemberian Ayahku.
“Astaga ini sudah hampir tengah hari”, kataku kaget.
Aku lupa kalau tadi malam aku merubah settingan
alarm, ah…. Pantesan kalau sekarang bangun terlambat.
“Jadi, jangan salahkan siapa-siapa Akira, kau
sendiri yang melakukan kecerobohan ini”, kataku dalam batin.
Segera aku keluar dari apartemen, dan langsung
menuju tempat sepedaku terparkir.
“Astaga… OMG…. Ya, Ampun”.
Betapa terkejutnya melihat sepedaku tak ada di
tempat dimana biasanya aku parkir. Aku mencarinya kesana kemari, aku bertanya
pada orang disana tapi tak ada satupun yang tahu.
Rasanya aku mau menangis, menjeritttt. Bagaimana
tidak mau menangis, tidak mau menjerit, aku sudah bangun kesiangan, pelanggan
yang memesan jauh-jauh hari bunga untuk pasangannya akan marah karena aku
terlambat mengantarkan bunga pesanan mereka, dan ditambah lagi sepeda yang tak
tahu wujudnya ada dimana? Ya…. Tuhan kenapa harus hari ini? Kenapa harus dihari
kasih sayang ini aku begini?
Air mataku mengalir tak kuat kubendung.
“Akira, mengapa kau menangis. Tuhan tak akan
memberikan cobaan kepada makhluknya diluar kemampuannya. Hanya hal sepele
begini, kau sudah meneteskan air mata. Katanya kau wanita yang kuat dan tegar,
tapi kenapa saat ini kau menangis, seperti anak kecil yang kehilangan
mainannya. Stop Akira, kamu tidak seharusnya menangis hari ini. Sekarang hari
kasih sayang, dan Tuhan menunjukkan rasa kasih sayangnya sekarang padamu”, aku
berkata pada diriku sendiri, mencoba memberi motivasi sendiri.
Kuhapus air mataku dan segera aku menunggu taksi.
Ah…. Tidak jangan taksi, terlalu mahal untuk kubayar. Angkot saja… Hmm.. akan
lama jika naik angkot. Terpaksa aku berjalan kira-kira 50km, menuju pangkalan
ojek.
Ya aku naik ojek, meskipun panasnya bukan main.
Sesampainya di toko bunga, aku merasakan dengkul kakiku sakit, pasti lecet gara-gara
tadi bersentuhan dengan body mobil. Arghhh…. Kesialanku tak berhenti disini,
aku bingung bagaimana cara mengantarkan bunga-bunga pesanan jika tak ada sepeda
ontelku. Argghhhhhh… aku menjambak rambut ku sendiri.
Aku melihat kotak masuk lebih dari 20 di handphoneku
yang tertinggal di toko bunga, ditambah lagi missed call lebih dari 10, di BBM
pun juga begitu.
Aku menundukkan kepalaku, hari ini aku sial. Kemana
si mata biru itu membawa sepedaku, jika saja sepedaku tak ada pada dirinya
pasti aku sudah selesai mengantarkan bunga-bunga pesanan.
Ku nonaktifkan handphoneku, aku tak ingin memikirkan
bunga-bunga pesanan yang tak ku antarkan. Dan aku tertidur… di toko bunga.
“Permisii, permisiii”.
Terdengar suara sayup-sayup.
“Permisi”.
Aku terbangun, mengucek-ngucek mataku dan segera
menghampiri sumber suara itu.
“Kau?”, tanyaku
“Iya”, dia menjawab disertai anggukan kepalanya.
Akupun merapikan penampilannku, terutama rambut yang
acak-acakan karena tertidur tadi.
“Mau membeli bunga?”, tanyaku tanpa berpikir.
“I-i-i-iya, aku juga ingin mengembalikan itu”, dia
menunjuk ke sepeda yang terpakir disisi jalan tepat di depan mobilnya.
“Oh… Sepedaku, terima kasih Niall”.
“Sama-sama”, dengan senyum yang menghiasi wajah
tampannya.
“Kau mau membeli bunga apa ?”, tanyaku basa-basi.
“Mawar……………………………………..merah”, dia terlihat masih
memikirkan bunga apa yang ingin dibelinya.
“Oh ini, ada yang sudah dirangkai, ada yang
perkuntum. Mau pilih yang mana?”, aku menunjukkan bunga mawar kepadanya.
“Aku mau yang perkuntum saja”, dia memilih bunga
mawar yang merekah sempurna dan menciuminya.
“Hari kasih sayang, buat pasangannya yah?”, tanyaku
ingin tahu.
Sebenarnya aku tak ingin menanyakan itu, tapi dari
pada penasaran mending aku tanyain aja. Lagian kan aneh kalo beli bunga di hari
kasih sayang ini, dia gak ngasik bunganya ke pasangannya. Meski rada-rada takut
sih, kalau dia jawabnya “Iya”. Bisa patah hati dong….. L
L
L
Kulihat dia hanya memasang wajah dengan senyumnya
yang maut, tak menjawab pertanyaanku. Arghhh…. Jadi gak tau kebenarannya deh.
“Eh.. sorry ya, aku baru nganterin sepedamu
sekarang. Tadi pagi aku menunggumu di lantai bawah apartemenmu, tapi aku tak
melihatmu. Aku kira kau sudah ada di toko bungamu, jadi tadi pagi aku juga
kesini, tapi sial toko bungamu masih tutup”, jelasnya.
“Ah… tidak apa-apa Niall kau sudah membantuku
memperbaiki ban sepedaku yang kempes”.
Meskipun tadi agak sedikit kesal pada Niall, tapi
aku tidak mau dia tahu tentang itu.
“Kenapa kau terlihat kacau, hari ini?”, dia bertanya
menatapku dengan mata birunya, tepatnya menatap penampilanku yang masih agak
acak-acakan.
“Hehehe, tadi aku ketiduran”, jawabku cengengesan.
“Oh…”, dia mengangguk-anggukan kepalanya.
“Berapa?”, dia mengeluarkan dompet kulit warna
coklat dari saku belakangnya.
“Ah tidak usah, Niall. Kau sudah membantuku,
bunganya ambil saja”.
“Sungguh?”, tanyanya masih menatapku.
“He’em”, ku jawab dengan anggukan.
“Terima kasih……..”, Niall tak meneruskan
perkataannya, seakan dia ingin menyebut namakan namaku di belakang kata terima
kasih.
“Akira, namaku Akira Hensley”, kataku spontan.
“Terima kasih Akira”, dengan senyum yang sangat
mengembang.
“Sama-sama Niall”, ku balas dengan senyuman yang
termanis, menurutku.
“Apa aku bukan orang asing lagi bagimu?”, tanyanya
menyatukan kedua alisnya membentuk seperti jembatan suramadu.
“Hemmm….. mungkin iya”, jawabku malu.
“Kalau begitu saya pergi dulu”.
Dia membalikkan tubuhnya berjalan menjauhi diriku.
“Niall”.
“Iya”, katanya menoleh padaku, menghentikan
langkahnya.
Aku mengambil setangkai mawar merah muda, yang tak
jauh dari tempatku berdiri.
“Selamat hari kasih sayang Niall Horan”, kataku
sambil menghampirinya dan menyodorkan setangkai mawar merah muda padanya.
“Terima kasih, Akira”, dia mengambil setangkai mawar
merah muda yang aku sodorkan ke arahnya.
Aku hanya tersenyum, mendengar perkataannya.
Dia membalikkan tubuhnya, dan masuk ke dalam
mobilnya. Secepat kilat, mobilnya melaju menghilang dari pandangan.
Aku menuntun sepedaku yang berada di tepi jalan,
memindahkannya ke depan toko bunga.
Kenapa………? Kenapa tadi aku memberikannya bunga, dan
mengucapkan selamat hari kasih sayang?
Aku tidak memikirkan tindakanku matang-matang,
bahkan tadi dia hanya berterima kasih tanpa membalas tindakanku. Setidaknya dia
harus bilang selamat hari kasih sayang juga kepadaku, meskipun tidak dengan
bunga.
Argh… kenapa begini?
Tapi sudahlah, mengapa aku harus menyesal. Toh
sekarang aku tidak bisa menarik ulang perkataanku tadi. Ah… Niall Horan.
***
Aku pulang dari toko
bungaku, menyusuri jalanan yang tampak ramai, ah… bukan tampak ramai lagi, tapi
ramai sekali. Yah… para pekerja kantoran jam segini biasanya pulang dan membuat
suasana jalan menjadi ramai karenanya.
Angin sepoi-sepoi menerpa, menyejukkan meskipun
suasana hati saat ini tak sesejuk angin yang menerpa karena kejadian tadi pagi.
Masih di suasana hari kasih sayang, kulihat sepasang kekasih sedang meramu
kasih di restoran pinggir jalan, aku melihatnya karena kaca restoran yang
tembus pandang.
Aku menggoes sepedaku dengan santainya sambil
mendengarkan music dengan memakai headset di telingaku, mencoba melupakan
kesialanku tadi pagi.
Dan jrtttt, aku menarik rem tangan sepedaku, ku
lihat sosok seorang yang kukenal berada tak jauh di depanku.
“Niall ?”, ucapku lirih.
“Benarkah dia ?”, sambungku lagi.
Yah… aku melihat Niall sedang membukakan pintu mobil,
siapa yang dia bukakan pintu? Aku mencoba menyimak apa yang terjadi, dan kau
tahu siapa yang keluar di dari mobil sport merah itu, yang Niall bukakan pintu,
yap… kau benar. Perempuan, dengan body aduhai, tinggi semampai, putih bersih
dan yang pasti cantik, tidakkk.. bukan cantik tapi lebih tepatnya perempuan itu
cantik sekali.
Niall memakai kemeja warna biru, terlihat kancing
kerahnya terbuka, dan si perempuan itu memakai dress pendek di atas lutut
dengan warna yang senada dengan Niall Horan.
Aku memanyunkan bibir seksiku (menurutku), siapa
dia? Kekasih Niall? Ah…
Niall menggandeng perempuan itu, masuk ke restoran
makanan Itali. Kelihatannya mereka sangat cocok, pasangan serasi.
Aku menggigit jariku, bagaimana bisa aku jatuh cinta
pada Niall ? Niall mempunyai selera yang tinggi untuk seorang kekasih. Aku? Yah
beginilah aku, kata ayah sih aku itu cantik kayak ibu. Tapi dibandingkan dengan
perempuan yang digandengnya, aku itu ibarat itik dan perempuan itu ibarat
angsa. Jadi antara itik dengan angsa.
Aku menghela nafas, mencoba menerima kenyataan.
Mungkin memang dia cinta pertamaku, tapi kan ada yang bilang, kalau cinta tak
harus memiliki.
Aku mengubur cinta pertamaku sedalam mungkin. Tak
mungkin bagiku menyaingi seekor angsa, yang wujudnya sangat sempurna.
Kembali ku kayuh sepedaku, melewati restoran yang di
masuki Niall bersama perempuan itu.
“Hmmm mungkin bunga mawar merah itu untuknya, untuk
perempuan itu. Pantesan saja, dia tak membalasnya dengan ucapan selamat hari
kasih sayang padaku tadi, mungkin dia hanya ingin mengucapkan itu kepada
kekasihnya”, gumamku.
***
Aku menyibukkan diri di kamar bermain game yang ada
di handphoneku, sesekali milirik ke arah jam weker, ah… masih jam 8 malam.
Biasanya aku tidur jam 9 malam, jadi masih tinggal
sejam lagi.
Tingtung……tingtung…..
Ada yang menekan bel kamar apartemenku. Siapa? Aku
tidak merasa ada janji dengan seseorang.
Aku membuka daun pintu, dan kulihat sosok lelaki paruh
baya membawa bunga di tangannya.
“Benar ini dengan Nona Akira”, tanya lelaki itu
padaku.
“Iya, ada apa ya pak?”.
“Ini ada kiriman bunga untuk Anda, silahkan terima
dan tanda tangan disini”, lelaki itu memberiku sekuntum mawar merah yang
dibawanya, dan menyodorkan kertas kecil untukku tanda tangani.
“Terima kasih pak”, kataku dengan senyum.
“Sama-sama”, jawabnya.
Aku menutup daun pintu kembali, dan menguncinya.
Menciumi bunga mawar itu, hmmmm harum J.
Aku mengambil kertas yang melekat pada tangkainya. Ku baca seksama. Hanya
bertuliskan (Selamat Hari Kasih Sayang Akira) tak ada keterangan nama
pengirimnya.
Dari siapa? Ibu? Tak mungkin ibu, ibu tak akan
mengirimkan bunga mawar merah kepadaku, karena ibu tahu kalau aku suka dengan
bunga krisan putih.
Hmmm mungkin ini dari fans gelapku, hah sejak kapan
aku punya fans gelap?
Kalau aku terus-terusan memikirkan dari siapa bunga
ini, bisa-bisa rambutku rontok. Aku menaruhnya di samping bunga krisan putih
kesukaanku, aku tak ingin membuangnya karena aku ingin menghargai pemberian
orang yang mungkin tak ku kenal.
***
Mentari pagi beri salam lagi, suara burung menyambut
hari berganti. Seperti biasa aku berangkat menuju toko bungaku, kemarin aku
seharian sudah merugi, sekarang tak ada lagi hal itu.
“Ah hari ini melelahkan sekali, untung semua pesanan
bunga sudah selesai ku antar. Jadi, aku bisa beristirahat sejenak”, kataku pada
diriku sendiri.
Aku duduk di kursi depan toko bungaku, menghadap ke
arah jalan raya. Menikmati sausana jalan dengan terik matahari yang setia
bersama.
Tiba-tiba mobil
Lamborghini Murcielago berhenti di depan tokoku.
“Itu kan mobil
Niall, ada apa dia kemari?”, tanyaku dalam batin.
Aku
memperhatikannya, dia tersenyum padaku saat dia melihatku. Niall berjalan
menghampiriku.
“Apa aku
mengganggumu?”, tanyanya.
“Tidak”, jawabku
singkat.
“Aku ingin
mengajakmu keluar nanti malam. Bisa?”.
“Keluar, ngapain?”,
kataku dengan nada sok cuek.
“Hmmm……”, dia
terlihat memikirkan jawaban dari pertanyaanku.
“Sebagai tanda
terimakasih”, ucapnya.
“Terimakasih? Untuk
apa?”.
“Karna kau sudah tidak
mengganggapku orang asing”.
“Hanya itu?”.
“Iya”.
“Ok”.
“Ok”.
Aku tersenyum
kearahnya, menatapnya ke arah mata birunya. Apa yang sedang dipikirkannya?
Mencoba mencari jawaban itu.
“Eeee kalau gitu,
aku permisi dulu”, pamit Niall.
“Hati-hati Niall”.
Niall meresponnya
dengan senyuman di wajahnya dan mengangkat jempol di tangan kanannya. Dan dia
pun menghilang bersama mobilnya.
“Kali ini apa yang
dipikirkannya? Bukankah aneh dia mengajakku keluar nanti malam hanya karena
alasan sepele seperti itu. Hmmmm… nanti malam aku harus bertanya tentangnya,
tentang kemarin yang aku lihat. Aku ingin kejujuran dari dirinya”, aku
berbicara pada diriku sendiri.
“Ah… sial, aku akan
menunggunya dimana nanti malam? Dia kan tidak tahu kamar apartemenku. Dasar
Akira ceroboh. Hmmmm sepertinya nanti malam rencananya akan gagal”, kataku
manyun-manyun.
***
Aku sudah bersiap, sekarang
tinggal menunggu dia datang. Aku memakai dress selutut warna kuning yang baru
aku beli tadi sepulang dari toko bunga dengan sedikit make up. Memang sedikit
risih sih untukku karena aku yang tak biasa memakai baju terbuka seperti ini,
biasanya sih aku memakai kaos atau kemeja dipadu padankan bersama celana jeans
panjang, tapi kali ini aku ingin mengikuti selera Niall.
“Aku tunggu Niall
di lantai bawah saja, Niall kan pernah bilang waktu dia mau ngembaliin sepedaku
dia menungguku di lantai bawah”, gumamku.
Aku memakai sepatu
boot warna cokelat yang tidak terlalu tinggi. Highheels, jangan harap aku
memakainya karena aku tidak suka.
Aku mengambil tas
kecil dan segera aku menuju lantai bawah.
10 menit… 20 menit…
30 menit… 60 menit.
Kau tahu kan
rasanya menunggu seseorang itu, 10 menit sudah seperti tlah berjam-jam menunggu
apa lagi 60 menit aku menunggunya. Mukaku berubah masam, jangan-jangan dia
hanya mempermainkan aku? Ah… kenapa aku terlalu bodoh untuk itu? Aku gelisah
memikirkannya, mondar mandir gak jelas.
“Hey Akira”, sapa
Niall dari luar bangunan apartemen.
Niall berjalan ke
arahku. Aku hanya diam menatapnya, masih dengan muka masamku.
“Kau sudah lama
menungguku?”,tanyanya padaku.
Aku tidak
menjawabnya, hanya diam.
“Maafkan aku Akira,
aku lupa memberitahumu kalau kita akan jalan jam 8”, jelas Niall.
Aku melihat mukanya
yang melukiskan rasa penyesalan, aku tersenyum padanya. Mungkin aku yang
terlalu antusias dalam hal ini.
“Tidak apa-apa, bukan
salahmu”, ucapku dengan senyuman.
“Kalau begitu,
ayo”.
Dia mengajakku,
memegang pergelangan tanganku menuju ke tempat mobilnya terparkir.
“Silahkan”.
Niall membukakan
pintu mobil untukku.
“Terimakasih”.
Aku da Niall melaju
meninggalkan bangunan apartemen tempat aku tinggal.
“Kita mau kemana?”,
tanyaku memulai pembicaraan yang dari tadi hanya suasana sepi sejak pertama
melaju.
“Entahlah, aku
tidak memikirkannya”, kata Niall sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Bagaimana Niall
tidak mikirkan hal ini? Dia mengajakku keluar tapi tak tahu mau dibawa kemana.
Cowok apaan sih dia? Apa karena dia mengajakku, dia tak memikirkan kemana dia
akan membawaku. Ah…. Niall kau membuat aku kecewa lagi”, kataku dalam hati.
Dia menghentikan
laju mobilnya, di sebuah restoran cepat saji.
“Kau akan memesan
apa?”, tanyanya padaku.
“Maksudmu?”, aku
balik bertanya padanya.
“Aku mau memesan
kentang goreng dan sosis goreng teriyaki, kau mau pesan apa?”.
“Aku kira kita akan
makan disana”, aku menunjuk ke arah meja restoran yang kosong.
“Oh tidak, kita
tidak akan makan di meja itu”, ucapnya.
“Kau mau pesan
apa?”, tanyanya lagi.
“Sama sepertimu”,
aku menjawabnya dengan nada datar.
“Ok, kau tunggu
disini”, pintanya.
Dia bahkan tidak
mengajakku, tapi menyuruhku tetap disini, di dalam mobil.
Hemm bete banget
tahu, malam ini. Kemarin waktu aku liat dia bersama perempuan dia terlihat
baik-baik saja, dia terlihat santai dan happy. Tapi, mengapa sekarang dia
terlihat tidak baik-baik saja, bahkan dia mengajakku tapi tidak memikirkan
kemana dia akan mengajakku, dan lagi dia memesan makanan cepat saji tapi tak
memakannya di tempat, aneh kan yah benar-benar aneh.
“Maaf lama”,
katanya sambil membawa dua kantong plastic berisikan makanan yang dipesan tadi.
“Tak apa”, kataku
datar.
Aku mengambil
makanannya dan menaruhnya di kursi belakang.
Dia menyalakan
mobilnya, deru mobilpun terdengar olehku. Dan kita pun melaju meninggalkan
resotoran cepat saji.
Sausana kembali
sepi, membisu seperti semula. Aku tak ingin memulainya, memulai lagi
pembicaran, aku sudah cukup bete karena ulahnya.
Niall menghentikan
mobilnya di bahu jalan. Mengajakku keluar dari mobil dan membawa makanan yang
telah dipesan tadi.
“Kita mau kemana?”,
tanyaku.
“Kesana”, jawabnya
sambil menunjuk ke kursi yang berada tepat bahu jalan.
Dia membawaku ke
jembatan besar yang di bawahnya sungai yang besar pula, dimana aku bisa melihat
kota yang kutinggali selama ini dalam suasana malam. Kerlap kerlip lampunya
menyinari gelapnya malam di kota. Aku duduk di sampingnya menghadap ke kota.
“Dari mana kau tahu
tempat ini?”, tanyaku.
“Dari seseorang”.
“Apa seseorang itu
sangat berharga untukmu?”.
Dia memandang ke
arahku sejenak dan kembali memandang ke arah kota.
“Sangat berharga”,
jawabnya.
“Oh…. Kau suka
makanan Itali ya?”.
“Kenapa kau
bertanya tentang itu”.
“Karena aku kemarin
melihatmu”.
“Melihatku,
dimana?”.
“Di restoran Itali
bersama wanita”.
Dia tersenyum
mendengar ucapanku tadi.
“Mengapa tersenyum?
Apa ada yang lucu?”, aku mengerjitkan dahiku.
“Tidak, kau
sendiri?”, tanyanya.
Dia mencoba mengalihkan
pembicaraan.
“Aku lebih suka
makanan Indonesia”.
Dia hanya
mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kau belum menjawab
pertanyaanku”, kataku.
“Aku tidak perlu
menjawabnya”.
“Kenapa?”.
“Cepat makan
makanannya, mumpung masih hangat”.
Aku hanya bisa
diam, dia tak mau menjawab pertanyaanku. Ku penuhi mulutku dengan makanan yang
iya pesan.
Uhukkk… uhukkk… aku
batuk karena makanan yang dimulutku.
Niall terlihat
membukakan minuman soda untukku.
“Ini, makanya
pelan-pelan”, dia menyodorkan minuman soda yang telah dia buka tadi.
Segera aku
meminumnya.
“Terima kasih”.
“Sama-sama Akira”.
“Akira”.
“Iya”.
“Bisakah kita
berteman?”.
“Berteman? Mengapa
tidak”, jawabku.
Dia tersenyum lebar
kearahku,
“Terima kasih”.
“Kau terlihat
bahagia”.
“Iya, karena aku
punya teman sepertimu”.
“Sepertiku
memangnya kenapa aku?”.
“Sedikit….”, dia
tidak meneruskan perkataannya, mengangkat telunjuknya dan memutar-mutarkan di
depan keningnya, dan kulihat senyum sedikit menghina ke arahku.
Aku tidak mengerti
apa yang diucapkannya, tapi aku tak ingin tahu karena aku bahagia bisa menjadi
temannya.
“Jangan tersenyum
seperti itu, aku tidak suka”, pintaku.
“Bukankah senyumku
indah?”, kata Niall dengan bangganya.
“Siapa bilang”.
“Para wanita”.
“Mungkin wanita
yang bilang seperti itu tidak bisa melihat kenyataannya”, aku tersenyum
mengejek kepadanya.
Niall tanpa kau
memberitahuku bahwa senyummu itu indah, aku sudah tahu apalagi dengan mata
birumu itu, itu lebih dari indah.
“Akira”.
“Iya”.
“Apakah kau ingat,
kau pernah tidak jadi naik lift saat kau melihatku di dalam lift?”.
“Seingatku tidak”.
“Kau pernah berlari
menjauhi lift gara-gara melihatku”.
“Oh… tunggu tunggu
tunggu jadi itu kau? Ya ya ya kali ini aku ingat. Kau orang yang berpakaian
aneh itukan, serba hitam”, kataku.
“Aneh, apa aku
terlihat seperti itu sehingga kau lari dariku?”.
“Kau sangat aneh,
bahkan aku sempat mengira kau orang jahat”.
Tawanya pecah, baru
kali ini aku melihatnya tertawa seperti itu.
“Kenapa kau
tertawa?”, tanyaku penasaran.
“Kau ini lucu
sekali, masak aku tampan begini kau bilang seperti orang jahat”.
“Heh… kalau
penampilanmu seperti ini aku takkan mengiramu seperti itu”.
“Jadi kau mengakui
kalau aku tampan?”.
Iya Niall tanpa kau
bertanya, aku sudah mengakuimu kalau kau tampan bahkan sangat tampan.
“Enggak, aku gak
pernah bilang kalau kau tampan”.
“Ayo ngaku”.
“Apaan sih”, kataku
sambil aku membenarkan pakaian yang ku kenakan, ini sedikit risih bagiku.
“Kenapa?”, Niall
bertanya kepadaku.
“Aku tidak terbiasa
memakai dress seperti ini”.
“Lalu mengapa kau
memakainya?”.
“Menurutku, aku
akan lebih cantik memakai ini”.
“Tanpa kau memakai
ini pun kau sudah terlihat cantik”.
Aku terkejut
mendengarkannya, dan mukaku memerah seketika, yahh aku merasakan perubahan itu.
“Kenapa mukamu
merah?”.
“Ah masak sih?”.
“Merah sekali,
seperti apel. Aku gigit yah?”.
“Eh sembarangan
kau”.
“Oh ya aku belum
meneruskan kalimatku tadi, kau cantik bahkan sangat cantik kalau dilihat dari
menara pisa menggunakan sedotan”, seketika dia tertawa.
“Niall, tega”, aku
memalingkan wajahku, tak ingin memandangnya.
“Akira”.
Aku menoleh ke
arahnya, ternyata Niall sudah menghadap ke arahku saat dia menmanggilku, dia
menyondongkan tubuhnya dan wajah kita sangat dekat, oh tidak dekat sekali.
Jantungku memburu hebat, berdetak tak karuan. Niall menatapku, dan memegang
wajahku. Aku tak bisa apa-apa, aku hanya memandang mata biru, mata biru yang
sangat memukau.
“Kau cantik”.
Kalimat itu yang
dia lontarkan. Ah kau tahu rasanya seperti apa? Seperti muncul dengan seketika sayap di punggungku
yang membawaku terbang ke langit biru.
Aku tersenyum
kepadanya.
“Benarkah?”,
tanyaku memastikan.
“Sangat benar
Akira”, dia menatapku dengan sangat dalam.
“Indah”, kataku
spontan.
Dia melepaskan
tangannya di wajahku.
“Apanya yang
Indah?”, tanyanya penasaran.
“Matamu, mata biru
itu”.
Dia menoleh ke
arahku, dan terlukis senyuman di wajahnya.
Niall, Niall Horan….
Dia orangnya humoris, baik, dan agak
sedikit romantic, mungkin selama ini dia terlihat seperti itu karena kita belum
berteman kali, atau mungkin dia malu mengeluarkan kepribadian yang sesungguhnya.
Kami tertawa
bersama malam itu, banyak candaan yang kami lontarkan. Tapi, tetap saja saat
aku menanyainya tentang perempuan yang kulihat bersamanya kemarin, dia tak
menjawabnya.
Niall
mengantarkanku pulang. Rasanya baru setengah jam yang lalu aku akrab dengannya,
tapi ternyata ini sudah tengah malam.
Niall
mengantarkanku sampai ke pintu apartemenku.
“Jadi disini kau
tinggal”, kata Niall.
“He’em”, aku
membenarkannya.
“Kau sendiri?”,
tanyaku.
“Aku tinggal dengan
tanteku”.
“Di apartemen
ini?”.
“Oh tidak,
dirumahnya”.
“Lalu kenapa kita
selalu bertemu di apartemen ini ?”.
“Aku kesini menemui
temanku, tapi sekarang dia sudah pindah apartemen”.
“Oh… Niall
terimakasih untuk malam ini”.
“Sama-sama”.
Aku memencet kata
sandipintu apartemenku, dan hendak masuk.
“Bye”, ucapku
padanya dengan disertai senyum.
“Bye”, kata Niall.
Dia berjalan menuju
lift, dan aku pun memasuki apartemenku.
“Akira”, teriak
Niall.
Aku pun keluar.
“Iya”.
“Perempuan yang kau
lihat bersamaku, dia bukan siapa-siapa”.
“Iya”, aku
tersenyum bahagia mendengar hal itu.
Aku kembali masuk
ke kamar apartemenku, dan sekali lagi dia memanggilku dengan sedikit berteriak.
“Akira”.
“Iya”.
“Tidak ada”, kata
Niall penuh senyuman.
Aku mengerjitkan
dahiku, tak mengerti yang dimaksudnya.
“Hanya begitu”, sambungnya
lagi.
Aku tersenyum tak
mengerti perkataannya.
Diapun menyuruhku
masuk kamar apartemen dengan isyarat dan akupun menurutinya.
Cinta yang tadinya
aku kubur, kini cinta itu kembali ke permukaan. Bersiap untuk tumbuh menjadi
cinta yang sesungguhnya. Niall, aku tahu kau yang terbaik untukku. Dan aku
berharap, kau takkan mengecewakanku.
Aku ukir namanya “Niall
Horan” di dinding kamar. Berharap jika aku melihat ukiran tangan itu di dinding,
aku akan membayangkan wajahnya, senyumnya, dam mata birunya yang memukau.
***


20.29
Nayla


0 komentar:
Posting Komentar